Lima Cara Sunnah Menikmati Alquran

Lima Cara Sunnah Menikmati Bacaan Alquran

Membaca Alquran adalah salah satu ibadah yang sepatutnya kita nikmati, karena setiap hurufnya mengandung pahala. Namun saat membaca kadang kita mengabaikan perkara-perkara yang justru menghilangkan kenikmatan saat membaca Alquran tersebut. Berikut empat hal yang insyaAllah dapat membuat nikmat memahami Alquran

1.      Membaca Alquran dengan tartil
Allah berfirman
وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ
Artinya: Dan bacalah Alquran itu dengan tartil (QS. Al-Muzzammil:4)

Imam Al-Khozin menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan tartil adalah menghadirkan hati saat membaca Alquran.[1]
         Nabi saw membaca Alquran dengan perlahan dan mengeluarkan huruf dengan jelas, dan ia tidak melewati ayat rahmat kecuali berhenti dan memohonkannya, dan tidak melewati ayat azab kecuali berhenti dan berta’awwudz.[2]
        Dari Ibnu Abbas ia berkata: Membaca satu suroh dengan tartil lebih aku sukai dari pada membaca Alquran sekaligus tanpa tartil[3]


2.      Mengulang-ulang bacaan ayat
Disunnahkan pula mengulang-ngulang bacaan ayat sebgaimana diriwayatkan dari Abu Zar bahwasanya nabi bangun sholat dan mengulang satu ayat sampai subuh, ayatnya adalah

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ

Artinya: jika engkau menyiksa mereka maka sesungguhnya mereka adalah hamba Mu (Qs. Al-Maidah: 118) (HR. Ibnu Majah dan Nasa’i)

3.      Khusu’ dan mentadabburi ayat yang dibaca
Hendaklah ketika membaca alquran dirinya dalam keadaan khusyu’ dan mentadabburinya saat membaca, adapun dalil tentang ini banyak sekali

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ

Artinya: Alquran yang diberkahi kami turunkan kepada kalian agar kalian mentadabburinya (Qs. Shod: 29).[4]
     Diantara cara khusu’ dan mentadabburi ayat yang dibaca adalah dengan menyibukkan hati dengan memahami makna-makna ayat yang dibaca, memerhatikan ayat-ayat perintah dan larangan serta menerima itu semua dan apabila merasa tidak sanggup melakukan atau meninggalkan perintah atau larangan itu maka beristighfarlah, dan apabila melewati ayat rahmat agar memohon karunia-Nya dan apabila melewati ayat azab memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan dan azab atau berkata

اللهم إني أسألك العافية

Artinya: Aku meminta ampunan
Atau
اللهم إني أسألك العافية من كل مكروه

Artinya: Aku meminta ampunan dari semua yang dibenci
Dan apabila melewati ayat-ayat tanzih maka bertanzihlah dengan ucapan سبحنه وتعالى  atau تبارك وتعالى atau جلت عظمة ربنا

Khuzaifah bin Al-Yaman berkata: Nabi saw apabila melewati ayat tasbih, maka ia bertasbih dan apabila melewati ayat memohon, maka ia memohon dan apabila melewati ayat ta’awwuz, maka ia berta’awwuz (HR. Muslim)

4.      Menangis ketika membaca  Alquran
Disunnahkan menangis saat membaca Alquran, dan pura-pura menangis bagi yang tidak bisa menangis Nabi bersabda:
إقرؤا القرأن وابكوا فإن لم تبكوا فتباكوا
Artinya: Bacalah alquran dan menangislah maka jika tak menangis, maka berpura-puralah menangis.[5]
            Imam Al-Ghozali berkata: Cara agar bisa menangis saat membaca Alquran adalah dengan menghadirkan hati yang sedih dengan memperhatikan ancaman-ancaman dalam Alquran. Maka jika tidak bisa mengahadirkan kesedihan pada ayat-ayat semacam itu dalam Alquran maka menangislah atas tidak bisa menangis itu, karena itu adalah termasuk dari musibah besar[6]

5.      Membaca Alquran dengan jamaah
Disunnahkan membaca Alquran secaraa berjamaah sebagaimana di sabdakan Nabi :
مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
Artinya: Tidaklah berkumpul suatu kaum di rumah-rumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya bersamaan kecuali Allah turunkan  kepada mereka ketenangan, dan mereka dilimpahkan rahmat Allah, dan malaikat ikut menaungi mereka. Dan Allah menyebut mereka kedalam orang-orang yang disisinya (HR. Muslim)




[1] Muhammad Ali Asshobuni,  Shofwah Attafasir (Makkah: Maktabah Taufiqiyah, 2017) jil. 3. h. 441
[2] Ibid
[3] Imam Nawawi, Attibyan Fi Adab Hamalat Alquran, h. 133
[4] Ibid, h. 122-123
[5] Ibid, h. 129
[6] Ibid, h. 131

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOK MASIH GALAU? ssstt.... Ini bacaan biar kamu dapat ganti yang lebih baik