RAHASIA SUROH ALFATIHAH

RAHASIA SUROH ALFATIHAH
PENULIS: MUHAMMAD RIZKI AKBAR SIREGAR

a.      Suroh paling baik di dalam Alquran
Dari Abu Sa'id bin Al Mu'alla ia berkata Rasul bersabda:

لَأُعَلِّمَنَّكَ سُورَةً هِيَ أَعْظَمُ السُّوَرِ فِي الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ الْمَسْجِدِ

Artinya: "Sungguh, saya akan mengajarimu tentang surat yang paling agung yang terdapat di dalam Al Qur`an sebelum kamu keluar dari Masjid."
Kemudian beliau memegang tanganku, dan saat beliau hendak keluar Masjid, saya pun berkata; "Bukankah engkau berjanji: “Saya akan mengajarimu surat yang paling agung yang terdapat di dalam Al Qur`an”
Beliau menjawab:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ

Artinya: (Surat) Al Hamdu Lillahi Rabbil 'Aalamiin (Alfatihah), ia adalah As Sab'u Al Matsani, dan Al Qur`an Al Azhim yang telah diwahyukan kepadaku (HR. Bukhori)

b.      Suroh Ruqyah
            Ada rombongan beberapa orang dari sahabat Nabi yang bepergian dalam suatu perjalanan hingga ketika mereka sampai di salah satu perkampungan Arab. Mereka meminta penduduk setempat agar bersedia menerima mereka sebagai tamu penduduk tersebut, namun penduduk menolak. Kemudian kepala suku kampung tersebut terkena sengatan binatang lalu diusahakan segala sesuatu untuk menyembuhkannya namun belum berhasil.
Lalu diantara mereka ada yang berkata: "Coba kalian temui rambongan itu semoga ada diantara mereka yang memiliki sesuatu”
Lalu mereka mendatangi rambongan dan berkata: "Wahai rambongan, sesunguhnya kepala suku kami telah digigit binatang dan kami telah mengusahakan pengobatannya namun belum berhasil, apakah ada diantara kalian yang dapat menyembuhkannya?"
Maka berkata, seorang dari rambongan: "Ya, demi Allah aku akan mengobati namun demi Allah kemarin kami meminta untuk menjadi tamu kalian, namun kalian tidak berkenan maka aku tidak akan menjadi orang yang mengobati kecuali bila kalian memberi upah”
Akhirnya mereka sepakat dengan imbalan puluhan ekor kambing. Maka dia berangkat dan membaca Alhamdulillah rabbil 'alamiin (QS Al Fatihah) seakan penyakit itu lepas dari ikatan tali padahal dia pergi tidak membawa obat apapun.
Dia berkata: "Maka mereka membayar upah yang telah mereka sepakati kepadanya”
Seorang dari rombongan berkata: "Bagilah kambing-kambing itu!"
Maka orang yang mengobati berkata: "Jangan kita bagikan hingga kita menemui Nabi , lalu kita ceritakan kejadian tersebut kepada Rasul dan kita tunggu apa yang akan Rasul perintahkan kepada kita"
Akhirnya rombongan menghadap Rasulullah lalu mereka menceritakan peristiwa tersebut. Rasul bersabda:

 وَمَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ ثُمَّ قَالَ قَدْ أَصَبْتُمْ اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي مَعَكُمْ سَهْمًا

Artinya: "Kamu tahu dari mana kalau Al Fatihah itu bisa sebagai ruqyah (obat)?" Kemudian Beliau melanjutkan: "Kalian telah melakukan perbuatan yang benar, maka bagilah upah kambing-kambing tersebut dan masukkanlah aku dalam sebagai orang yangmenerima upah tersebut". Maka Rasulullah tertawa (HR. Bukhori dan Muslim)

c.      Membaca Al-Fatihah bernilai pahala seperti telah membaca Taurot, Zabur, Injil dan Al-Quran

من قرأ فاتحة الكتاب فكأنما قرأ التوراة والإنجيل والزبور القران

Artinya: Barangsiapa yang membaca Fatiha Al-Kitab (Al-Fatihah), maka seolah-olah ia telah membaca Taurot, Injil, zabur dan Alquran(HR. Abu Ubaid dalam kitab Fadhoil Alquran)[1]

d.      Bacaan Alfatihah memudahkan dikabulkannya permintaan

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ { الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ } قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي وَإِذَا قَالَ {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي فَإِذَا قَالَ {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ 

Artinya: Allah berfirman: “Aku membagi shalat antara Aku dengan hambaKu, dan hambaku mendapatkan sesuatu yang dia minta. Apabila seorang hamba berkata:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya:“Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam”
Maka Allah berkata: “HambaKu memujiKu” Apabila hamba tersebut mengucapkan:

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Artinya: “Yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang” Allah berkata, “HambaKu memujiKu” Apabila hamba tersebut mengucapkan:

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Artinya: “Pemilik hari kiamat”
            Allah berkata: “HambaKu memujiku” Selanjutnya Dia berkata: “HambaKu menyerahkan urusannya kepadaKu” Apabila hamba tersebut mengucapkan:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Artinya: “Hanya kepadaMulah aku menyembah dan hanya kepadaMulah aku memohon pertolongan”
Allah berkata: “Ini adalah antara Aku dengan hambaKu. Dan hambaKu mendapatkan sesuatu yang dia minta” Apabila hamba tersebut mengucapkan:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Artinya: “Berilah kami petunjuk jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula orang-orang yang sesat”
Allah berkata: “Ini untuk hambaKu, dan hambaKu mendapatkan sesuatu yang dia minta” (HR. Muslim dan selainnya)



[1] Abu Ubaid, Fadhoil Alquran, (Matba’ah Fudholah), h. 25

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOK MASIH GALAU? ssstt.... Ini bacaan biar kamu dapat ganti yang lebih baik