Khasiat Belajar Alquran

Khasiat Belajar Alquran

Penulis : Muhammad Rizki Akbar Siregar

1.    Khasiat Belajar Alquran
a.    Menjadi Sebaik-baik manusia
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Artinya: Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya (HR. Bukhori dan Muslim)
b.    Dibersamai malaikat
الَماهر باِلقُرانِ مَعَ السَفَرَةَ الكِرَامِ الَبَرَرَةِ وَاٌلَذِي يَقُراٌ القُرانَ وَيَتَتَعتَعُ فِيه وَهُوَ عَلَيهِ شَاقٌ لَه اَجَران 
Artinya: Orang yang mahir membaca Al-Quran bersama malaikat pencatat kebaikan, dan orang yang membaca Al-Quran  dan tersendak-sendak saat membacanya dan ia kesusahan dalam membacanya maka baginya dua pahala (HR. Bukhori dan Muslim)
c.     Dijaga di Hari Kiamat
من تَعَلَّمَ القرآن واتبع ما فيه هداه الله من الضلالة ، ووقاه يوم القيامة سوء الحساب
Artinya: Barangsiapa yang belajar Alquran dan mengikuti apa yang ada pada Alquran maka Allah beri hidayah ia dan Allah selamatkan ia di hari kiamta dari hisab-hisab yang buruk (HR. Attobrani dalam Alkabir)
d.    Dimudahkan masuk surga
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya: Barangsiapa yang menempu satu jalan untuk mencari ilmu maka Allah mudahkan langkahnya dengan upayanya tersebut masuk ke surga (HR. Muslim)
e.     Akan Mendapatkan Pahala Meski Tak Mendapatkan Ilmu
من طلب علما فأدركه كتب الله له كفلين من الأجر ، ومن طلب علما فلم يدركه كتب الله له كفلا من الأجر 
Artinya: Barangsiapa yang menuntut ilmu dan mendapatkannya, Allah akan mencatatnya dua kebaikan pahala, dan barangsiapa yang menuntut ilmu dan tidak mendapannya, Allah akan mencatatnya satu kebaikan pahala. (HR. Attobroni dalam Al-Kabir dan rawi-rawinya tsiqoh)[1]
f.      Mendapatkan Pahala Yang Lebih Baik Dari Sholat Seratus Rakaat
أَنْ تَغْدُوَ فَتَعَلَّمَ آيَةً مِنْ كِتَابِ اللهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ مِائَةَ رَكْعَةٍ ، وَلأَنْ تَغْدُوَ فَتَعَلَّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ  عُمِلَ بِهِ أَوْ لَمْ يُعْمَلْ  خَيْرٌ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ أَلْفَ رَكْعَةٍ
Artinya: “Jika kamu pergi di pagi hari untuk belajar satu ayat Al-Qur’an, maka itu lebih baik bagimu daripada shalat seratus rakaat. Dan jika kamu pergi di pagi hari belajar satu bab tentang ilmu, maka itu lebih baik bagimu daripada shalat seribu rakaat”. (HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan)[2]
g.     Dinaungi Malaiakat
مَا مِنْ خَارِجٍ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ إِلَّا وَضَعَتْ لَهُ الْمَلَائِكَةُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا بِمَا يَصْنَعُ
Artinya: Tidak ada orang yang keluar untuk menuntut ilmu kecuali Malaikat meletakkan sayapnya kepadanya, karena ridho atas apa yang ia (penuntut ilmu) lakukan (HR. Ibnu Majah, Tirmizi dan ia menshohihkan hadis ini, dan Ibnu Hibban dalam Kitab Shohihnya dan Al-Hakim, ia berkata hadis ini shohih sanadnya)[3]
h.    Mendapat Pahala Haji Sempurna
مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتهُ
Artinya: Barangsiapa yang bersegera pergi kemesjid tidak ingin yang lain kecuali hanya untuk belajar kebaikan atau mengajarkannya maka baginya pahala seperti pahala haji yang sempurna (HR. Attobroni dalam Al-Kabir dengan sanad yang tidak ada masalah)[4]
i.      Terhindar Dari Laknat Dunia
 إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ، مَلعون مَا فِيهَا، إِلاَّ ذِكْرَ اللَّه تَعَالَى، ومَا وَالاَه وَعالماً وَمُتَعلِّماً
Artinya: Dunia ini terlaknat, dilaknat apa yang ada di dalamnya kecuali orang yang senantiasa mengingat Allah, dan taat kepadaNya, dan ‘Alim dan orang yang belajar ilmu agama (HR. Tirmizi dan ia mengatakan hadis ini hasan)
j.      Meneruskan Ilmu dari Ulama’
إِنَّ الله لا يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعَاً يَنْتَزِعُهُ من العِبادِ ولَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ حتَّى إذا لَمْ يُبْقِ عَالِمٌ اتَّخَذَ الناس رؤسَاً جُهَّالاً ، فَسُئِلوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
Artinya: Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari manusia secara sekaligus, namun menarik ulama’ sampai tak tersisa, kemudian manusia memilih pemimpin yang bodoh lalu mereka bertanya kepada orang bodoh tadi, lalu mereka berfatwa. Mereka sesat dan menyesatkan (HR. Bukhori dan Muslim)


[1] Al-Munziri, At-Targhib wa At-Tarhib, J.1, h.53
[2] Ibid, h. 54
[3] Ibid, h. 59
[4] Ibid

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOK MASIH GALAU? ssstt.... Ini bacaan biar kamu dapat ganti yang lebih baik