Ikhlaskan Saja
Ikhlaskan Saja Dalam Ibadah
Penulis: Muhammad Rizki Akbar Siregar
1.
Beribadah Dengan Ikhlas
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya: Dan aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (QS. Azzariyat:56)
Mengomentari
ayat ini Imam Al-Qusairi berkata: Ayat ini ada pengkhususan pastinya (tidak
semua jin dan manusia diwajibkan untuk beribadah. Karena orang gila dan
anak-anak tidak wajib untuk beribadah. Ayat ini mencakup sebahagian makhluk
yang beriman saja[1]
Adapun
syarat diterimanya Ibadah orang beriman tentulah harus dengan ikhlas
sebagaimana firman Allah swt.
وَمَآ
اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ
Artinya: Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali
untuk beribadah kepada Allah dengan Ikhlas hanya untuk-Nya karena (menjalankan)
agama (QS. Al-Bayyinah:5)
Mengomentari
ayat مُخْلِصِيْنَ
لَهُ الدِّيْنَ (Ikhlas hanya untuk-Nya karena (menjalankan)
agama) Imam Al-Qurtubi berkata: Maksudnya adalah ikhlas dalam beribadah
sebagaimana firman Allah:
قُلْ إِنِّىٓ أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ ٱللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ
ٱلدِّينَ
Artinya: Katakanlah (Hai Muhammad)
sesungguhnya aku diperintahkan agar beribadah kepada Allah dengan ikhlas karena
(menjalankan) agama (QS. Azzumar: 11)
Dan
ini adalah dalil wajibnya niat ikhlas dalam ibadah, karena niat adalah kerja
hati maka hendaklah mengarahkannya semata karena Allah bukan keselain-Nya[2]
Dan
ungkapan imam Al-Qurtubi ini selarans dengan sabda Nabi saw.
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ،
وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ
وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ
لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ
إِلَيِهِ
Artinya: Seusungguhnya semua
amalan itu tergantung dengan niat, dan sesungguhnya semua orang tergantung apa
yang ia niatkan. Maka apabila ia hijrah (menuju ke yang lebih baik) karena
Allah dan RasulNya maka hijrahnya untuk Allah dan RasulNya, dan barangsiapa
yang hijrah karena dunia yang ingin ia dapatkan, atau karena wanita yang ingin
ia nikahi maka hijrahnya ia dapatkan sesuai dengan apa yang ia hijrahkan
(niatkan) (HR. Bukhori dan Muslim[3])
Fudhail
bin ‘Iyadh berkata: Meninggalkan amal (ibadah) karena manusia adalah riya’ dan
mengerjakan amal (ibadah) karena manusia adalah sirik. Dan ikhlas itu saat
Allah menyelamatkan engkau dari keduanya[4]
a. Ancaman Bagi Ibadah Yang Tak Ikhlas
Nabi
saw. juga mengancam orang-orang yang beribadah tanpa adanya ikhlas dalam
beribadah. Beliau bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ
رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا
عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ كَذَبْتَ
وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ
فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ
وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا
قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ
وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ
لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ
ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ
وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ
بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ مَا
تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا
لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ
ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ
Artinya: Sesungguhnya manusia yang mula-mula dihukumkan
di hari kiamat adalah orang yang mati syahid, kemudian didatangkan ia dan
dihadapkan ia dengan nikmat-nikmatnya selama di dunia kemudian ia menyadari
(nikmatnya) dan Allah berfirman: Apa yang engkau perbuat selama di dunia? Ia
menjawab: Aku berperang karena Mu sampai mati syahid, Allah berfirman: Kau
berbohong, akan tetapi kau berperang agar dikatakan pemberani dan itu sudah
engkau dapatkan. Maka
diperintahkan ia untuk di seret wajahnya sampai ahirnya ia dilempar ke neraka.
Dan (yang mula-mula dihukumkan di hari kiamat adalah) orang yang belajar ilmu
kemudian mengajarkannya dan membaca Alquran, kemudian didatangkan ia dan
dihadapkan ia dengan nikmat-nikmatnya selama di dunia kemudian ia menyadari
(nikmatnya) dan Allah berfirman: Apa yang engkau perbuat selama di dunia? Ia
menjawab: Aku belajar ilmu dan mengajarkannya, dan membaca Al-Quran karena Mu,
Allah berfirman: Kau berbohong, engkau belajar agar dibilang pandai dan membaca
Al-Quran agar dibilang qori’ dan itu sudah engkau dapatkan. Maka diperintahkan
ia untuk di seret wajahnya sampai ahirnya ia dilempar ke neraka. Dan (yang
mula-mula dihukumkan di hari kiamat adalah)
orang yang Allah lapangkan rezekinya dan memberikan bermacam-macam
hartanya, kemudian didatangkan ia dan dihadapkan ia dengan nikmat-nikmatnya
selama di dunia kemudian ia menyadari (nikmatnya) dan Allah berfirman: Apa yang
engkau perbuat selama di dunia? Ia menjawab: Tidak aku tingaalkan jalan infak
yang engkau cintai, kecuali aku berinfak di situ karena Mu, Allah berfirman:
Kau berbohong, engkau melakukannya agar di bilang dermawan dan itu sudah engkau
dapatkan. Maka diperintahkan ia untuk di seret wajahnya sampai ahirnya ia
dilempar ke neraka (HR. Muslim)[5]
b. Keutamaan Niat Ummat Akhir Zaman
Adapun diantara keutamaan niat Ummat Akhir
Zaman ini adalah tercatatkannya didalam kitab ummat terdahulu. Sebagaimana
diriwayatkan dari Abu Huroiroh yang ditakhrij oleh Abu Nuaim: Sesungguhnya Musa
as. Ketika diturunkan Taurot padanya dan membacanya, ia mendapati sifat ummat
ini dan berkata: “Wahai Tuhan, aku menemukan di dalam lauh (taurot) suatu
ummat, apabila dia berniat berbuat baik walau belum mengerjakannya maka ditulis
baginya satu pahala kebaikan, dan apabila ia berbuat baik dan mengerjakannya
ditulis baginya sepuluh pahala kebaikan. Maka jadikanlah mereka jadi ummat ku”.
Maka Allah berfirman: “Itu Ummat Muhammad”. Musa as berkata: “Wahai Tuhan, aku
menemukan di dalam lauh (taurot) suatu ummat, apabila ia berniat mengerjakan
dosa dan ia tidak melakukannya maka ditulis baginya satu pahala kebaikan, dan
apabila berniat melakukan dosa dan melakukannya ditulis baginya hanya satu
dosa. Maka jadikanlah mereka ummatku”. Maka Allah berfirman: “Itu Ummat
Muhammad”[6]
Ungkapan
Nabi Musa as. Saat membacakan Taurot yang ia terima dari Allah merupakan
keutamaan niat yang tidak dimiliki oleh ummatnya. Dan ungkapannya juga
dibenarkan Nabi Muhammad saw. Dalam sabdanya:
إِنَّ
الله كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ؛ فَمَنْ هَمَّ
بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً،
وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى
سَبْعِمائَةِ ضِعْفٍ إِلىَ أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ. وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ
يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا
فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ له سَيِّئَةً وَاحِدَةً
Artinya: Sesungguhnya Allah menulis catatan kebaikan dan kejahatan
kemudian menjelaskannya. Barangsiapa yang berniat melakukan kebaikan kemudian
ia tak melakukannya Allah catat satu pahala kebaikan sempurna untuknya,
barangsiapa yang berniat melakukan kebaikan kemudian melakukannya Allah catat
untuknya sepuluh pahala kebaikan sampai tujuh ratus pahala kebaikan bahkan ke
hitungan yang lebih dari itu, dan barangsiapa yang berniat melakukan dosa
kemudian tak melakukannya Allah catatkan baginya satu pahala kebaikan sempurna,
dan barangsiapa yang berniat melakukan dosa kemudian melakukannya Allah
catatkan baginya satu kejahatan (HR. Bukhori dan Muslim)
Komentar
Posting Komentar